Thursday, December 5, 2013

Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan

Pernah melihat tayangan bagai langit dan bumi di salah satu stasiun televisi swasta kita? Acara itu menyuguhkan acara yang membandingkan satu hal dengan hal yang lain. Yang satu selalu berada di atas, bagai di atas angin, begitu berkuasa. Dan satunya begitu lemah, membumi, tidak ada yang peduli. Mungkin begitulah potret masyarakat Indonesia saat ini. Maka hal itu yang akan saya bahas sekarang yaitu, "Potret Masyarakat Indonesia : Desa vs Kota".


Masyarakat kota yang kini disebut sebagai masyarakat modern hidup dengan kecanggihan dan kecepatan perubahan teknologi. Mereka bergaya hidup cenderung konsumtif, ingin serba cepat dan praktis. Keinginan ini bukan tanpa alasan. Hidup di kota dengan gaya yang biasa tentu akan cepat tersingkirkan. Kota menyuguhkan kehidupan yang mewah, nyaman, dan tertata yang akan membuat siapa saja mau melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Untuk itu diperlukan kerja keras, banting tulang kadang dari pagi sampai larut untuk mendapatkan kemewahan hidup di kota besar. Hal ini lah yang menuntut masyarakat di dalamnya membentuk kepuasan pribadi. Yang mampu membawanya ikut terlarut dalam hingar bingar budaya perkotaan yang diimpikannya.

Masyarakat kota yang demikian sudah jarang memiliki waktu untuk bersosialisasi. Waktu mereka akan habis untuk membentuk kepuasan pribadi tanpa perlu berusaha berhubungan dengan orang lain. Tak jarang masyarakat kota akan tidak mengenal tetangga sebelah rumahnya, siapa yang tinggal di sebelah apartemennya, bahkan mereka saling sungkan sesama rekan kerja karena menurut mereka itu salah satu rivalnya dalam memperoleh penghasilan.

Maka yang terjadi adalah tidak adanya komunikasi baik, kurangnya rasa persaudaraan satu sama lain, tak peduli, dan lantas saling kabur enggan menyapa. Kehidupan semacam ini biasa terjadi dalam masyarakat kota.
Sebaliknya, masalah desa hidup lebih tentram. Tak ada tekanan, baik moral dan lingkungan yang mengancam kehidupan mereka. Sederhana dan saling menjaga persaudaraan satu sama lain. Karena itu mereka yang hidup di desa biasanya hidup lebih lama dibanding mereka yang hidup di kota.

Tentu nilai sosial mereka lebih baik dari masyarakat modern sekarang ini. Tak jarang para tetangga saling bertukar makanan pokok, saling membantu bila ada yang membutuhkan, dan selalu berbagi masalah bersama. Mereka tidak saling canggung dan menganggap tetangga adalah saudara dekat yang harus diperhatikan karena kelak mereka akan butuh perhatiannya juga.

Begitu kira-kira perbandingan masyarakat desa dengan kota. Dengan biaya hidup yang meningkat, mereka menghadapinya dengan cara yang berbeda. Meski begitu, masyarakat masih dikategorikan makhluk sosial. Sudah sepantasnya kita lebih menghargai sesama sebagaimana kita ingin dihargai.

0 comments:

Post a Comment

 
;