Friday, November 29, 2013

Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan

Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
  • Orang yang tinggal di daerah tersebut
  • Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.
(Wikipedia)

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. (Wikipedia)

Dengan demikian diketahui bahwa masyarakat yang hidup di daerah tertentu disebut penduduk. Dan penduduk yang mendiami suatu daerah memiliki adat atau kebiasaan yang pada jaman sekarang kita kenal dengan kebudayaan.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. (Wikipedia)

Dalam suatu tatanan masyarakat tertentu, kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dapat disimpulkan menjadi suatu budaya. Yang mengakar dan membentuk budi pekerti seseorang, membangun sebagai mana budaya tersebut berkembang.

Pada kasus ini dapat dimisalkan budaya korupsi yang sekarang tengah merajai berita di Indonesia. Hampir setiap waktu ada saja aparat yang terjebak dan diberitakan terkena kasus ini. Kita ingat bagaimana kasus Century pernah merajai pertelevisian hingga sebulan penuh bahkan lebih, belum kasus suap daging import atau kasus 'apel malang' artis yang menjadi politisi Enji. Korupsi seperti sudah begitu wajar dilakukan dan banyak orang yang seperti menutup mata atas segala yang terjadi di sekitar. Masyarakat Indonesia yang besar juga tak kuasa menghentikan budaya ini dikarenakan semua dilakukan kaum atas yang pintar dan cerdas mencari celah hukum untuk memperkaya dirinya sendiri.

Masalah ini memang pelik dan menjadi bumbu pemerintahan Indonesia sekarang ini. Mereka yang di awal menjanjikan kepada masyarakatnya akan adil dan bla bla bla di tengah kuasa tertangkap tangan sedang menghianati janji mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung, uang yang mereka curangi bernilai milyaran bahkan trilliyunan. Berbanding terbalik dengan sebagian besar penduduk Indonesia yang perkapita Indonesia di 2014 hanya US$ 5000.

Menilik kembali arti kebudayaan, budaya berasal dari kata budi. Segala yang dilakukan dan diterapkan seharusnya bernilai pada akal dan budi, bukan hanya pada kepentingan pribadi semata. Maka marilah berpikir kritis dan cerdas dalam menghadapi gempuran kebudayaan yang seharusnya tidak membudaya macam korupsi ini. Bukan hanya negara, seluruh masyarakat akan merugi apabila 

0 comments:

Post a Comment

 
;