Monday, March 24, 2014

Politik itu Layaknya Parasit

Politics are like a parasite.   Dia akan menempel, menghisap, dan menggerogoti yang punya kejayaan. Dia tak malu-malu membayangi yang punya kuasa, untuk selalu mengangkat dirinya ke tempat yang lebih tinggi. Tak punya belas kasih pada tumbuhan lain yang juga membutuhkan saripati untuk hidup. Lupa pada tugasnya sebagai sesama makhluk untuk saling mengasihi dan menyayangi. Seakan dia bisa hidup hanya dengan dia dan simbiosis parasitisme yang dia anut.

Menutup mata pada tumbuhan yang ia hinggapi sehingga daun-daunnya meranggas, kulit kayunya mengering karena kekurangan nutrisi, dan akarnya tumbang karena tak lagi dapat mencengkeram apa yang ada di bawahnya. Lemah. Tak bersisa.
Bodohnya tumbuhan itu papa. Seakan bisu dan tuli juga dibutakan oleh gemerlap keindahan sang parasit, dia diam tak bergeming. Lantas seperti wayang yang mau diatur gerak-geriknya oleh sang dalang, tertunduk, terdiam, tertawa melalui aba-aba.


Suara yang meneriakinya lantang tak digubrisnya, walau kala itu rumput dan ilalang yang hidup di bawahnya sudah berisyarat, "Janganlah kau termakan rayuannya wahai sang pohon. Dia penuh tipu daya. Dia hanya menggunakanmu untuk bertahan hidup. Dia akan meninggalkanmu segera setelah kau mati."

Tapi teriakan itu kalah oleh bisikan parasit yang lebih dekat telinganya. Dekat rupanya. Yang jelas lebih didengar olehnya.

"Apa yang kau takutkan? Aku ada di sini bersamamu. Aku akan selalu ada untukmu."

Bisikan itu diterbangkan oleh angin, menimpa seng dan bangunan rombeng di sekitar kali Ciliwung. Menghantam rumah kardus manusia di pinggiran rel kereta api. Berakhir entah di mana, di permukaan langit.

Alkisah, hari saat parasit itu memenangkan sang pohon tiba. Pohon kini tak berupa. Kelam, dangkal, dan lebih dari separuh tubuhnya mati rasa.
Saatnya aku pergi. Bisik parasit dalam hati.

Meninggalkan sang pohon dengan keadaan setengah komanya, berlari mencari perlindungan ke tempat yang lebih baik. Melupakan janji-janji manis yang dia ikrarkan kepada sang pohon, mengingkarinya.

Tanpa parasitnya, buat apakah hidup sekarang? Tak ada yang jadi penopangnya, tak ada bisikan indah seperti dulu. Mungkin lebih baik sang pohon juga pergi. Berbeda dari parasit yang berpindah tempat ke ekosistem lain, dia akan berpulang. Kepada Sang Pencipta. Membawa segudang rasa bersalah dan gulana. Membawa pergi penyesalan yang tidak berakhir.

Tapi tunggu. Suatu saat mereka akan kembali bertemu. Di mana? Tentu di kehadirat Sang Pencipta. Saat semua akan disidangkan tanpa ada jaksa pembela. Dengan hakim dan pengacara yang sudah dipilih langsung oleh-Nya.
Wahai, sudahkah mereka siap dengan semua?

0 comments:

Post a Comment

 
;