Sunday, February 8, 2015

Perasaanku, Akankah Sampai Padamu? PART 3


    Selepas pulang, Rena langsung diseret ke SOS. Cafe biasa mereka. Belum-belum kedua orang yang membawanya itu menuntut penjelasan.
    “Engga ada apa-apa kok sama kita. Yakin deh. Kita juga baru ngobrol sekali.” Jawab Rena gugup. Kan emang nggak ada apa-apa?
    “Kalian udah pernah ngobrol? Dimana? Kapan?” tanya Hana. “Eh tunggu, itu artinya Tama cowok pertama yang ngobrol sama lu dong?”
    Rena menggeleng. “Kan ada Bagas, Rio.”
    Jia mengelak, “Kamu ngobrol sama mereka kan urusan tugas negara. Tapi apa yang bikin kamu sama Tama ngobrol? Since then, how much both of you talking behind us?” tanya Jia suspicious.
    Rena menggeleng lagi. “Kita cuman pernah ngobrol. Sekali. Udah gitu aja. Dan kita belom ngobrol apa-apa lagi sejak itu.”
    “Sekali tapi rasanya begitu special ya...” Jia dan Hana mulai menggoda temannya yang pemalu itu.
    Rena diam saja sambil pura-pura menghabiskan ice capicinno miliknya.
    “Well then, we hope something good happen between both of you.” Kali ini Jia berkata disertai doa. Tulus.
    “Kita bener-bener pengen lihat kamu bahagia Na. And diatas segalanya, Tama bukan pilihan yang buruk.” Kata Hana sambil menyendokkan potongan sirloin steak ke mulutnya.

--

    Bukan pilihan buruk? Batin Rena lagi. Entah untuk keberapa kalinya. Hari ini fikirannya kurang fokus. Tugas membersihkan lab menjadi pekerjaan berat ditambah teman satu kelompoknya, Dimas dan Putra seperti kebiasaanya, kabur lebih dulu.
    “Loh, kamu masih disini? Bukannya sebentar lagi pelajaran olahraga?” seseorang menyapanya dengan suara yang berhasil membuat Rena menoleh.
    Tama melihat pekerjaan yang masih bertumpuk di tempat cuci.
    “Aku bantu ya.” Ujarnya enteng.
    “Lagi?”
    “Apa maksudnya lagi?”
    “Kamu kan udah nolong aku waktu itu...”
    “Haha, anggap aja waktu itu buat ganti karena kamu udah mau cerita-cerita soal masa lalu kamu.”
    Jadi curhatan berhargaku cuman dituker sama ngangkatin buku ke perpus doang? Batin Rena agak geli.


    Kali ini Tama nggak banyak mengajaknya bicara seperti waktu itu. Pekerjaan yang begitu banyak bisa selesai dalam waktu singkat. Sebenarnya Rena ingin lebih lama lagi bersama. Tapi kenapa? Bukannya bagus kalau pekerjaan cepat selesai?
    “Nah, beres. Kamu bisa cepet ganti baju buat olahraga. Cewek kan suka ribet. Jadi duluan aja ke kelas. Biar aku yang nyerahin kunci ke guru fisika.” Kata Tama.
    “Emm.. bener nggak pa-pa?” Rena ragu.
    “He em. Aku tinggal lari setengah menit juga sampe.”
    “Oke. Makasih ya.” Kata Rena akhirnya. Dia berlalu tanpa menengok lagi.
    Bener-bener cewek cuek dan polosnya gak ketulungan. Batin Tama yang entah kenapa agak kecewa mengingat sepuluh menit mereka habiskan dengan sama-sama nggak ngomong apa-apa.
    Ketika selesai mencuci tangannya, dia melihat ada tempat pensil tertinggal di meja. Ah, ini kan punya Rena? Tapi anaknya sudah terlanjur hilang di belokan. Apa boleh buat, kubawa aja deh. Nanti aku kembalikan kalo mau pulang.

--

    “Masih lama Na? Ricko udah nungguin di gerbang nih.” Kata Hana ngga sabaran. Hari ini jadwal dia dan pacar ngedate. Dan yang ngajakin udah nungguin lama di gerbang. Lebih lama lagi, mungkin Ricko bakal ngabur lagi buat latihan balapnya. Dan kencan yang ditunggu-tunggu Hana selama dua minggu hasil merengek bakal jadi sia-sia.
    “Aduuh Han, duluan aja deh. Belom ketemu sih. Kalian duluan aja deh. Mungkin ketinggalan di lab. Tadi kan aku piket di sana.”
    Akhirnya kedua sobatnya ngalah. Mereka pergi setelah Rena mengantar sampai gerbang.
    Setelah berhasil balik ke kelas, ada yang dengan mengherankannya belum pulang. Dan dia seperti menunggu seseorang.
    “Eh, akhirnya balik juga.” Katanya setelah menengok. Rena terpaku di pintu. Nggak mungkin kan seorang Tama nungguin aku?
    “Aku udah nunggu dari tadi. Nunggu yang lain pulang juga sih.” Ujarnya menjawab semua pertanyaan batin Rena.
    Belom sempat bertanya, dia menyerahkan kotak pensil yang sejak tadi dicari-carinya sampai pusing.
    “Eh, kok bisa?”
    “Emm, tadi ketinggalan di lab.”
    “Ooh..” seperti dugaannya.
    “Terus?” tanya Rena membuat Tama salah tingkah.
    “Cek aja. Aku nggak ngambil apa-apa kok.” Kemudian dia pamit sambil lari keluar kelas.
    Aneh. Buat apa ngecek isi kotak pensil? Isinya kan cuman peralatan nulis biasa. Rena bingung.
    Kemudian seperti penasaran, dia melihat isi kotak pensilnya. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang hilang. Tapi ada sesuatu yang asing yang dia merasa tidak melihatnya tadi pagi, atau saat terakhir dia memasukkan bolpoin ke dalam kotak itu. Ada secarik kertas. Berisi deretan angka.
    Rena tertawa. Lucunya...

--

    Aku ingin percaya bahwa di antara aku dan kamu ada kita. Bahwa ada ikatan yang sama antara hati dan menyatukan perasaan kita. Aku ingin percaya bahwa suatu saat aku bisa merasakan rasa itu, sedalam-dalamnya. Lebih bahagia, lebih berbunga-bunga, dan lebih bersyukur dari pada siapapun. Aku percaya rasa itu yang menuntunku untuk dapat mengenalmu lebih jauh. Dan suatu saat rasa itu jugalah yang akhirnya bisa membuka pintu hatiku. Hanya kepadamu. Kuharap hanya padamu rasa ini berlabuh. Semoga kau bisa menjaganya. Seperti aku akan berusaha menjaga perasaan yang telah kau berikan.

--

    Semua butuh keberanian. Saat kita hendak melangkah, mengawali satu langkahnya saja butuh keberanian. Juga ketika kita terjatuh. Butuh kekuatan pula untuk kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan. Saat kekuatan tak ada, bukan hanya bangkit, bahkan kita takkan mampu untuk mengawali langkah. Sesedikit apapun itu, kita butuh kekuatan. Dorongan dari dalam diri kita untuk terus dan terus berjuang.
    Mungkin hal yang sama sedang terjadi padanya. Mungkin dia sedang mengumpulkan kekuatan besar untuk mengalahkan rasa takutnya. Dia sedang melawan dirinya sendiri saat ini. Dan berhasil memenangkannya sewaktu aku mendapati sms dengan nomor baru yang tak dikenal dengan isian begitu singkat, padat, tanpa emoticon.
    Selamat beristirahat.
    Begitu isinya. Tapi sms pertama darinya ini bukannya membuatku ingin segera lari ke alam mimpi malah sebaliknya. Aku ingin tetap terjaga di dunia. Karena sekarang aku sedang mengalami masa yang lebih indah dari alam mimpi.
    Thanks, Rena. And to u, too ^^
    Tak perlu ada balasan untuk itu. Aku tahu dia juga tak mengharap balasan sewaktu mengirimiku sms tadi. Dia hanya mencoba mengatakan kalau dia membaca pesanku di kotak pensilnya yang sengaja aku tinggalkan bersamaan dengan nomor handphoneku. Itu saja sudah membuatku bahagia.
    Hari ini entah kenapa dunia menjadi begitu indah.

--

0 comments:

Post a Comment

 
;