Saturday, February 7, 2015

[Cerpen] The Language of Flower Series - Lily of the Valley :: Kau Membuatku Sempurna







 


    “Biaz, ayo Bi! Keluar kelas. Bolos jam pelajaran olah raga yuk!” ajak Nizi yang tiba-tiba nongol dari jendela ruang kelas Biaz.
    Biaz, cowok dingin berambut coklat sedikit berdiri menyambutnya tanpa tengokan bahkan lirikan sedikitpun.
    “Ayo Bi! Ada yang baru di sekolahan ini! Kamu pasti suka deh!” Nizi langsung menarik tangan Biaz tanpa di minta. Melewati koridor sampai akhirnya mereka tiba di gedung paling belakang sekolah. Ada taman kecil di sana. Dan lihat. Ada beberapa ekor kelinci berbulu putih bersih berlarian bebas di sekitar taman mini itu.
    Nizi langsung mengangkat satu kelinci tadi, dan duduk di bangku panjang di bawah pohon cemara besar berdaun lebat. Mau tak mau Biaz ikut duduk di bangku itu.
“Bi, kelincinya lucu ya?”
    Biaz diam. Bingung atas apa yang dikatakan cewek di sampingnya itu. Bingung atas apa yang dilakukannya di tempat asing ini. Bingung karena nggak bisa menolak ajakan cewek itu sedikitpun.
Padahal biasanya dia hanya sendiri. Melakukan semuanya seorang diri. Nggak ada orang yang perduli. Tapi dua minggu ini, cewek satu ini sudah begitu saja hinggap di sisinya. Tanpa dia tau, perlahan cewek itu menyusup ke dalam hatinya.
    Nizi memang sering berlaku semena-mena. Tapi belum pernah rasanya Biaz nyoba nolak ajakan Nizi. Males atau emang gak bisa? Kenapa gak bisa?

*    *    *

    Selalu seperti itu. Hari ini juga. Biaz sudah berada di sebuah toko aksesoris cewek serba pink dan nggak tau harus ngapain. Yang dia tau, sepuluh menit yang lalu dia mengiyakan ajakan seorang cewek beli jepit rambut baru karena jepit lamanya nggak sengaja terjatuh. Dan guess what, Biaz nggak nolak!


    Padahal kan tempat seperti ini bukan hobinya. Nggak dia banget! Kenapa bisa dia melakukan sesuatu di luar kendali tubuhnya yang dia nggak tau kenapa alasannya?
    “Ini aja  ya Bi?” tanyanya. Biaz hanya mengangguk. Perlu digaris bawahi, hanya mengangguk. Tak ada yang lebih baik dari itu. Dan begitulah cara mereka berdua berkomunikasi.
    Biaz perlahan memikirkan kalau semua ini salah! Apa yang akan dikatakan ayahnya nanti kalau tau dia ada di tempat seperti ini? Bukannya dia harusnya belajar, belajar dan terus belajar? Biaz merutuki dirinya sendiri dalam diam.

*    *    *

    Biaz memandang ruangan kamarnya. Ruangan itu terasa dingin. Sedingin hatinya yang telah membeku. Seluruh ruangan bahkan seluruh isi rumahnya terlihat sangat dingin dan tak tersentuh. Tak ada orang lain yang tau, dan bahkan nggak ada orang lain yang mau tau. Hanya Biaz dengan dunianya. Sendiri.
    Biaz mencoba memejamkan matanya perlahan. Angin dingin menusuk kulitnya dari rongga jendela yang sedikit terbuka. Tapi dia tak sedikitpun mengacuhkannya.
    Papanya sudah tidak pulang selama beberapa minggu. Penyakit gila kerjanya sudah sangat parah sejak hari Mama Biaz pergi ke hadirat-Nya 2 tahun yang lalu. Penyakit pedih dalam hatinya makin lama semakin bertambah parah. Entah apa yang bisa menyembuhkan penyakit itu.
    Dilayangkan pikirannya pada kejadian kemarin. Dengan riangnya Nizi bercerita tentang film yang barusan mereka tonton. Sampai-sampai wajahnya memerah karena tak sabar menceritakan film tayang perdana itu sama temen-temennya di sekolah.
    Pribadi Nizi mengagumkan. Tanpa sedikitpun pemaksaan, tanpa ada niat memonopoli, tapi Biaz merasa dia jadi terikat pada gadis itu dengan mudahnya.
    Dan lagi, senyumnya hangat. Begitu hangatnya sampai mencairkan balok-balok es di hatinya yang lama membeku. Tanpa dia sadari, dia sangat menginginkan esok hari cepat datang biar bisa melihat senyum itu lagi. Senyum indah yang sangat ditunggunya.

*    *    *

    “Biaz, Papa ingin bicara denganmu.” kata suara berat membuat Biaz semakin menguatkan pendengarannya. ‘Pasti masalah kerjaan lagi.’ Batinnya.
    “Kamu sudah 17 tahun. Dan kamu pasti akan melanjutkan posisi Papa sebagai Direktur di perusahaan kalo kamu dewasa nanti. Papa hanya memintamu untuk terus berusaha. Banyak sekali orang-orang pintar di dunia ini. Dan Papa ingin melihat kamu sebagai salah satunya. Papa ingin kamu berkualitas sebagai penerus Papa agar perusahaan Papa bisa lebih berkembang sampai di luar negeri.” Katanya seperti yang sudah Biaz duga.
    “Papa menyekolahkan kamu mahal-mahal di sekolah itu untuk melihat kamu berhasil. Jangan sampai Papa ketahui kamu main-main pada apa yang sudah Papa tanggungkan pada kamu.” Ujar Papa mengakhiri ceramah rutinnya setiap bulan. Setiap dia pulang dari pekerjaannya yang selalu lama.
    Biaz membuka matanya lagi. ‘Ahh… mimpi yang selalu sama…’
    Dia langsung membuka jendelanya dan menyongsong matahari.
    ‘Tidak bisakah aku keluar dari belenggu ini walau sebentar? Tak bisakah aku sedikit saja melepaskan tanggung jawabku dan sejenak terdiam? Memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya?’
Biaz menghembuskan nafas kesal. ‘Nizi. Kenapa saat seperti ini aku selalu teringat sama cewek itu?’

*    *    *

    Nizi dengan takjub memandangi pajangan baju baru di butik dia biasa membeli. Sementara dia masuk ke dalam, Biaz mengedarkan pandangannya ke seluruh area mall yang baru dia kunjungi pertama kali. Begitu banyak orang. Kepalanya agak sedikit pening.
    Sampai ada seseorang yang memanggilnya dengan sangat keras.
    “Biaz!! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya suara keras yang dihafalnya karena selalu bergaung di telinganya bahkan saat dia menutup matanya.
    “Pa, Papa? Sedang apa Papa di sini?” balas Biaz gugup.
    “Papa sudah bilang! Kamu harus melakukan apa! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?! Bukannya hari ini kamu ada jadwal les?? Jadi kamu bolos? BEGITU?!” bentak Papanya membuat hampir seluruh orang yang berada di situ menengok.
    “Pa, Papa… aku…” Biaz tak kuasa menjawab. Sampai akhirnya Nizi muncul dari balik pintu butik menenteng belanjaan yang berhasil di beli.
    “Ada apa ini Om?” tanya Nizi menyela.
    “Kamu ya? Anak yang sudah menyebarkan keburukan sama Biaz? Kamu tau? Apa jadinya Biaz kalau bergaul bersama kamu?” todong Papanya langsung.
    Nizi meradang.
    “Om, bisakah Om mengucapkan kalimat yang lebih pantas di dengar? Maaf kalau saya harus meninggikan suara. Saya tau kalau saya salah mengajak Biaz ke tempat yang bukan seharusnya dia berada.” Kata Nizi. Papa Biaz memberi pandangan  seakan-akan ‘Bagus kalo kamu tau.’
    “Tapi apa benar, mengurung Biaz terus di  rumah, membatasi setiap gerak-geriknya, dan menyumbat pikirannya dengan terus-menerus mengatakan apa yang Om inginkan pada Biaz itu juga nggak salah?”
    Papa Biaz marah. Biaz tau itu. Tapi kemudian dia beranjak pergi dari tempat itu, membawa rekan-rekannya, dan meninggalkan Nizi dan Biaz.
    “Aku harus pulang.” Kata Biaz.
    “Enggak Bi. Kamu harus jelasin semuanya sama aku.” Todongnya.
    Dan di sebuah kafe dekat butik tadi, Biaz menceritakan semua yang terjadi padanya. Masalah yang tak kunjung selesai. Juga berbagai macam alasan yang menghantuinya untuk selalu berusaha mendapat peringkat satu di sekolah.
    “Biaz, kamu tau? Bahkan seenggak perdulinya induk ayam, dia tetap ada dan mengerami anak-anaknya di saat mereka masih menjadi sebuah telur.”
    Biaz menyernyit mendengar tanggapan Nizi yang menurutnya melenceng.
    Nizi tersenyum, “Papamu melakukan itu karena sayang sama kamu. Papamu terus bekerja, meninggalkanmu, juga untuk menunjang kehidupan kamu di masa depan dengan sangat baik. Dia melindungimu, Papamu takut kehilangan harapannya yang terbesar. Itu manusiawi dan sangat wajar. Papamu melakukan itu karena sayang kamu. Yah… meskipun caranya agak kasar…”
    Nizi melihat Biaz. “Bi, kamu sayang kan, sama Papamu?” tanyanya pelan.
    Biaz terdiam. Benar. Sejak Mamanya tiada, Papa menjadi sangat kesepian. Penyembuh kesepian Papa hanya dirinya. Yang bisa menghibur kekosongan hati Papa hanya prestasinya yang memuaskan.
Biaz tersenyum. Seperti mendapat pencerahan. Baru kali ini Nizi melihat senyum di bibir Biaz. Sangat indah. Perlahan namun pasti, bongkahan es di hati Biaz meleleh dengan seketika. Dan Biaz beranjak dari kursi.
    “Mau ke mana Bi?” tanya Nizi.
    “Pulang. Aku mau berterima kasih sama Papa. Karena udah mau memelihara aku sampai sebesar ini.” Dan itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah di dengar Nizi setelah dua bulan mengenal Biaz. Pertama kalinya.
    Nizi menyambut dengan suka cita, “Good luck!”

*    *    *

    Seminggu setelah itu keadaan membaik. Biaz diperbolehkan Papanya melakukan semua hal yang disukainya. Asal tanggung jawab. Dan sekarang Biaz mempunyai prinsip hidup yang lebih baik.
Nizi memandangi pinggiran danau tempat dia sekarang duduk bersama Biaz, yang udah resmi jadi cowoknya.     Nizi memandang cowok yang ada di sebelahnya itu sebentar, kemudian tersenyum manja.
    “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Dasar cewek aneh!”
    Nizi malah makin memperlebar senyumnya.
    “Aneh-aneh kan juga cewek kamu!” tandasnya.
    Cowok berkacamata yang sedang membaca buku di bangku dekat Nizi meliriknya, lalu tersenyum.
    “Iya Tuan Putri…” katanya mengalihkan pandangannya sedikit ke arah Nizi yang makin menjadi-jadi.     Tersenyum dengan sangat puas.
    “Kalo ada yang nanya ama Biaz siapa yang paling Biaz sayang, Biaz bakal jawab gimana?” tanya Nizi lagi. Semakin menatap Biaz secara lekat-lekat.
    Biaz menghembuskan nafas. Tanpa ekspresi, dia melihat danau yang sekarang berwarna menghijau karena senja mulai melingkupi kota Bogor. Warnanya indah sekali. Membuat mata yang memandangnya tidak ingin beralih sedetik pun.
    “Nggak ada yang nggak kusayang di dunia ini. Semuanya aku sayangi dengan kadar dan prosentase yang sama. Aku sayang dengan semua yang kukenal dan kuketahui.” Jawabnya diplomatis.
Biaz mengalihkan pandangnya ke angkasa yang juga berubah warna menjadi sedikit orange. Lalu menjatuhkan pandangnya ke Nizi. Tepat menaungi matanya yang dingin, terdapat cahaya kehangatan yang luar biasa.
    “Saat kutau aku hidup di dunia ini nggak bisa sendiri, aku membutuhkan seseorang yang mau ada di sampingku dan mengubah hidupku.” Biaz menutup matanya. “Dan yang kutau, yang ada tepat di hadapanku saat aku membuka mata cuma ada…” Biaz membuka pandangannya, mengarah pada sosok cewek cantik yang duduk di sebelahnya.
    Nizi mengesankan binar usil dalam matanya yang selalu ceria.
    “Makasih Bi…” ucapnya lugu.
    Biaz menggeleng. “Tidak. Harusnya aku yang berterima kasih. Kamu udah membuka mataku tentang Papaku. Kamu juga yang membuatku sekarang menjadi kembali merasakan hidup. Papa memang masih mengharapkanku, sangat malah. Oleh karena itu, aku akan menganggap apa yang aku lakukan sekarang dan selanjutnya, adalah membalas kebaikan Papa dengan jalan satu-satunya yang aku mampu.”
    “Pikiranmu jadi tambah dewasa, ya? Aku gak ngerti maksudmu?” Nizi mengerutkan kening.
    “Ya udah. Dipikir nanti aja. Mau makan sesuatu?” tawarnya, berdiri sambil menutup buku bacaannya.
    “Ice cream ya? 2 gelas penuh!”
    “Sipp…”
    Biaz memandang menembus ranting pohon dan sarang burung yang baru. Di sana berkeciap anak-anak burung baru menetas menanti sekembali induknya dari mencari makan. Biaz seperti ngeliat dirinya sendiri. Dari situ, mulai dari sanalah kehidupannya banyak berubah.
    Kemudian dia bersyukur sebanyak-banyaknya. Bersyukur punya orang tua yang sangat baik, bersyukur atas kehidupannya yang lebih dari cukup, dan bersyukur karena sekarang dia berhasil menemukan ‘sesuatu’ yang bukan hanya akan selalu disayangi, tapi telah mengajarinya untuk menyayangi semua yang ada di sekitarnya. Sesuatu itu, kini sudah bergumul dengan dua gelas es krim di tangannya. Tersenyum penuh kehangatan.
    ‘Aku tak akan pernah tersesat. Dan aku tak akan semudah itu menyerah pada hidup. Aku nggak bisa hidup sendiri. Seperti anak-anak burung itu, aku akan selalu menunggu kepulangan Papa setiap waktu. Aku nggak takut pada kesepian.’
    ‘Ya, aku tak akan kalah dengan mereka.’

-end


* this short story created on  07/08/2008 (after digging some old files on my desktop I figured out this has to be on air... such a childish story for a grown up woman like me... haha)

** this flower language base on http://aggie-horticulture.tamu.edu which the writer use as reference. Any different information are not related.

0 comments:

Post a Comment

 
;