Sunday, January 25, 2015

Perasaanku, Akankah Sampai Padamu? PART 1






Tama menggiring bola ke gawang. Tepat di sisi kanannya, lawan siap menghadang dengan tackle kerasnya. Tapi lewat saja dengan mudah. Bola seperti menempel di kakinya dan tak mau terpisahkan. Sampai akhirnya. Goal! Suara peluit panjang terdengar.

SMANSA Nubang yang menonton berteriak histeris. Banyak dari mereka melompat-lompat girang. Ada yang kemudian refleks lari ke lapangan sampai suasana benar-benar riuh. Pertandingan usai. Dan Tama yang menjadi MPV kali ini hanya tersenyum puas melihat kerja kerasnya dan timnya membawa hasil yang apik. Skor 3 – 0 menggantung di papan pengumuman membuat tim lawan lemah tak berdaya. Mereka bahkan tak bisa membalas satu gol pun. Kejuaraan ini juga dimenangkan kembali oleh juara bertahan dari 3 kali berturut-turut sejak 2011 lalu oleh anak-anak Nusa Bangsa atau yang biasa menyebut dirinya Nubang.

Yang membuat kemenangan kali ini spesial adalah, Tama, sang MPV mereka. Dia baru menjalani setengah tahun latihan karena baru menjadi anak tingkat pertama. Dan permainannya yang apik memang sudah dibuktikan sejak pertama kali bergabung dalam tim sepak bola SMANSA. Pelatihnya sendiri kagum atas kerja kerasnya selama menjadi trainee di klub. Rasanya tak ada yang bisa menandingi semangatnya berlatih untuk menjadi yang terbaik.

--



Kelas IPA 2 menjadi kelas paling sibuk sepanjang minggu. Perayaan musim kelulusan tahun ini mereka mendapatkan kehormatan sebagai kelas representatif yang menjadi koordinator acara lomba 17-an sampai acara pentas seni yang akan dilakukan minggu depan secara bersamaan.

“Na, ini mau ditaruh di mana?” tanya Bagas tertahan karena mengangkat properti untuk panggung yang luar biasa beratnya.

“Di pojokan dulu ya Gas. Ini aku lagi masangin pita di bagian depan.” Kata Rena tanpa sempat menoleh.

“Na, kita pergi beli paku tambahan ya.” Ijin Dimas dengan di backing i Putra.

Rena menoleh. “Kalian mau kabur lagi bukan?” tebaknya yang langsung tepat sasaran.

“Aku udah beli paku tuh, di kardus yang tadi di bawa Bagas. Buat persiapan kalo kalian mau kabur-kaburan lagi.” Tambahnya lagi. Kembali menekuni pekerjaannya menghias panggung.

Dimas dan Putra bersungut-sungut. Tapi karena Rena yang bilang, rasanya nggak ada yang bisa menolak.

“Renaa!” panggil seseorang lagi dari arah luar gedung pementasan.

Rena bangkit dari duduknya. Menghampiri Hana dan Jia yang melambai dari depan pintu.

“Udah denger belom? Klub bola menang kejuaraan lagi loh. Si pangeran kamu itu katanya jadi super hero nya lagi.” Kata Jia antusias.

Rena tersenyum. “Kalian cepet banget tahu soal kayak begituan. Bukannya pertandingannya baru selesai lima belas menit yang lalu ya?” tanya Rena sambil melihat jam tangannya.

“Heeii, kau sendiri paham bener jadwal kelarnya segala. Pasti penasaran kan si abang menang atau engga?” goda Hana. Dia tau sekali kalau sahabatnya itu benar-benar ingin tahu kabar ini secepatnya. Makanya mereka datang secepat kilat tadi.

“Nih, kita beliin es capucino. Istirahat lah. Jangan serius amat. Kan pentasnya juga masih seminggu lagi.” Jia menyodorkan minuman kaleng rasa kesukaan Rena.

“Makasih ya. Tapi kalo nggak dikebut takutnya nggak kelar pas hari H. Ini aja persiapan belom 70 persen.”

“Hmm... bener-bener kalian ini. Sama-sama berdedikasi tinggi sama pekerjaan ya.” Hana menggeleng-geleng takjub. “Yasudah kita balik ke kelas dulu ya. Ada semacem kegiatan penting yang harus kita hadiri. Gimana juga kan kita seksi acara.”

Rena tertawa mendengarnya. “Maksud kalian acara gosip?”

Jia dan Hana terkekeh sambil berlalu. Tinggal Rena melihat kepergian mereka dengan tenang. Ah, kau berhasil Tama. Selamat. Batinnya.

--

Pratama Dirga Anggara. Orang-orang menyebutnya Tama. Anak yang benar-benar bisa menghidupkan suasana. Pertama kali kupikir dia tipe kekanak-kanakan yang manja dan rewel. Ternyata di dalam sikapnya yang terkesan childish itu dia punya sisi baik yang kadang aku sendiri kurang mempercayainya. Dia begitu terbuka dan sering membuka percakapan terlebih dahulu denganku. Hal yang begitu sulit aku lakukan. Jangankan mengatakan mauku, mengatakan perasaanku yang sebenarnya saja begitu sulit. Membuka hati. Seperti apakah rasanya?

Andriana Renata. Cantik. Itu yang terlintas di pikiranku jika nama itu secara sengaja atau tidak terdengar di telingaku. Selain itu dia begitu pekerja keras dan bisa diandalkan. Kadang aku merasa terlalu canggung jika berada di sisinya. Bagaimana tidak. Selalu aku yang harus memulai perbincangan sedang aku bukan orang yang punya banyak topik. Segalanya yang aku tahu hanya tentang bola dan aku nggak yakin dia akan paham. Tapi lebih dari itu, aku begitu penasaran pada sosoknya. Sudah hampir setahun ini mengenalnya dan merasa belum tahu apa-apa tentangnya membuatku frustasi juga. Apalagi banyak yang suka padanya dalam arti kata suka sebenarnya padanya. Kapan dia akan membuka hatinya untukku?

--

Rena membuka kembali daftar pekerjaan yang dia catat di note biru miliknya. Desain panggung depan. Check. Dekor meja kursi juri. Check. Susunan pengisi acara. Belum. Persewaan alat pentas. Belum. Kemudian dia menoleh sekitar. Mencari-cari seseorang.

“David, lihat Dimas sama Putra nggak?” tanyanya cepat.

“Tadi sih katanya laper. Mungkin ke kantin.” Jawab David sambil meneruskan mengecat background panggung.

Rena menghela nafas. Dia menghampiri tasnya yang berkelap-kelip. Ada sms masuk.

Terimakasih doanya. Aku menang hari ini.

Rena tersenyum. Belum sempat membalas sms itu, guru pembimbing sekaligus penanggung jawab acara masuk ruangan. Rena meletakkan hapenya kembali ke tempatnya dan cepat memberi salam ke Pak Setya. Guru tadi.

--

Tama mengirim sms dengan perasaan bungah luar biasa. Sebelum bertanding tadi, Rena sempat memberinya sms. Biasa memang. Isinya bahkan cuma sepotong kalimat :

Selamat berjuang.

Tapi hal itu entah mengapa membuat pertandingan hari ini benar-benar berbeda. Dia semacam mendapat energi baru entah dari mana asal muasalnya. Rena bukan orang yang terbiasa mengirim sms lebih dulu padanya. Tapi hari ini, bahkan tanpa perlu dia minta, Rena mengirim pesan terlebih dulu.

Bolehkah jika aku menganggap ini sebagai kau telah membuka sebagian hatimu untukku?
--

0 comments:

Post a Comment

 
;